“Rizal…
Rizal… “
Tiba-tiba
saja matanya mengerjap, terjaga dengan begitu cepat. Kantuknya
cepat-cepat meninggalkannya. Salahkah Ia mendengar? Mimpikah? Sambil
menggoyang-goyangkan kepalanya, dia amati wajah ikhlas pemilik suara
tadi. Lelaki itu tidak sedang bermimpi.
“Rizal…
“ Nama itu kembali terucap dari bibir wanita di sampingnya.
Begitu lirih…, begitu dalam…, begitu…, ah tak mampu Ia menggambarkannya.
Lelaki
itu tercekat, nafasnya berdegup kencang, dadanya teramat sesak. Seakan
bumi itu runtuh menimpanya. Seperitnya rasa sakit begitu menjajah
hatinya. Sakit, sakit, sakit sekali. Sakit yang tak bisa dilukiskan
sempurna dengan kata, walaupun Ia seorang lelaki sekalipun. Dia terus
mencoba menguasai diri, tetapi tubuhnya tergugu. Kemudian secepat itu,
Lelaki itu sadar. Segera Ia menjauh dari wanita yang ada disampingya,
khawatir jika pemilik sumber suara tadi terbangun karenanya.
Suara
gemericik air wudhu mengalahkan keterguguan tubuhnya. Dia tersandar
lemas, di dinding kamar mandi. Maka menetes juga air matanya, bagaikan
mendung yang mulai meneteskan air hujan. Tetapi sebentar memang, lalu
perlahan ia mulai meninggalkan kamar mandi. Menuju ke ruang sholat,
sepertinya akan menumpahkan semua masalahnya pada Sang Pemecah Masalah, Allah
SWT.
Dan
kini, Lelaki itu tersungkur dalam sujud panjangnya. Sesenggukan tangisnya
masih terdengar, bahkan semakin jelas.
Setelah
salam selesai dilafadzkan, tertangadahlah tangannya mengaharap
kucur Cinta-Nya. Tangan itu bergetar hebat seakan tak mampu menangkup
do’a yang diucapkan oleh lisannya, karena keterbatasan kata.
Ya
Rabbi, wahai zat Pemilik hati dan jiwa ini… hamba berserah pasrah
kepada-Mu. Terhadap urusannya, terhadap hatinya. Karena Engkau yang
berhak mengkaruniakan cinta kami. Walaupun semua makhluk didunia ini
memberikan semua hartanya untuk bantuannya menebus cinta wanita itu…, maka
hamba tahu semua itu mustahil tanpa kehendak-Mu.
Ya
Rahman, sungguh hati ini telah menjadikan Engkau menjadi wali setiap urusanku,
hamba bermohon untuk melapangkan hati ini…meluaskan samudera cinta
hamba…meluaskan samudera maaf dan kesyukuran hamba… Hingga hamba mampu menerima
semua beban berat yang menggelayut ini.
Ya
Allah, terus bimbing hati ini untuk tetap mencintainya…tanpa ada
kemarahan…tanpa ada cemburu yang membuta…tetapi cinta hanya karena-Mu ya Allah.
Berikan hamba kecintaan terhadap apa yang menjadi kecintaannya.
Tercekat
suara Lelaki itu, ia biarkan matanya berkaca-kaca mengiringi setiap bait
untaian do’anya. Tak terasa waktu subuh segera akan tiba.
Lelaki
itu beranjak kembali ke kamar tidurnya. Ditatapnya dalam-dalam wanita
yang sudah memberikan empat buah hati itu. Wanita yang menjadi istrinya
hampir dua belas tahun. Wanita dengan wajah ikhlas, wanita yang terbaik
yang telah mendampinginya selama perjalanan cintanya. Rupanya masih
terlelap dengan tidurnya, terlalu lelah sepertinya, karena capeknya mengurus
rumah tangga. Seharian menemani empat buah hatinya.
Lelaki
itu ingin selalu mensyukuri setiap setiap hal yang telah diperbuat istrinya, Ia
tahu bahwa istrinya telah mengupayakan hal yang terbaik untuk suaminya.
Apapun segala pelayanan yang telah diberikan istrinya, selama ini Ia terima
dengan sempurna. Tetapi…, malam ini Lelaki itu sedikit terusik pada suatu
kejadian, tetapi belum tentu kenyataan, bahwa bisa jadi hati wanita itu masih
belum sepenuhnya untuknya. Perasaan hati wanita itu masih ada untuk
Lelaki yang lain…Tetapi, ah…segera lelaki itu hilangkan perasaan-perasaan buruk
itu dari pikirannya. Bukankah mimpi itu hanya bunga tidur? Bukankah
persoalan ini sudah dipasrahkan pada Allah SWT? Tetapi kenapa hati Lelaki itu
masih ragu… Ataukah Lelaki itu yang berlebihan berprasangka? Ataukah ini yang
dinamakan cemburu?
Rizal…
‘Nama
itu bisa jadi masih menempati di ruang hati istriku’…gumam lelaki itu.
Memang istrinya pernah bercerita, bahwa pernah ‘ada rasa’ dengan
nama lelaki itu. Ketika masih kuliah dulu, dan istrinya juga belum ikut
pengajian. Ia pernah dekat dengan nama lelaki itu. Istrinya merasa,
Lelaki itu juga ada hati dengannya.
Tetapi
jalan hidup berkata lain, lelaki itu lebih memilih wanita pilihan orang tuanya…
Sebelum
istrinya tahu, Lelaki itu kembali berwudhu, sehingga agar tampak wajahnya segar
gembali, seolah tidak ada apa-apa. Ia kembali menata hati, menguatkan
hatinya. Bukankah seorang suami itu harus kuat? Bukan kah suami itu
menjadi qowwam bagi istrinya.
Adzan
subuh berkumandang, segera Ia sentuh wajah istrinya dengan tangannya. Dengan
perasaan lembut, Ia bangunkan istrinya dengan kecupan pipinya.
“Yah…kedahuluan
deh bangunnya, afwan ya sayang…rasanya capek banget badan ini” kata wanita
itu sambil menyambut kecupan pipinya dengan memeluk suaminya.
“Gak
apa-apa, honey…udah adzan subuh” balas Lelaki itu dengan sebutan kesayangan
istrinya.
Setelah
sholat sunah dua raka’at, Lelaki itu pergi ke masjid untuk menunaikan sholat
subuh berjama’ah.
Ya,
Rabbi, ampuni syukur ini yang hanya sebutir pasir, padahal Engkau telah member
kami nikmat seluas samudera. Maafkan Ya, Rahman.
Semoga tiap yang ada menjadi pembelajaran bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan diridhoi Allah Swt. Aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong pertimbangkan hati nurani saya (˛•̃ •̃)/\(•̃ •̃¸)